dan badai. Tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman,
bangunan dan pertanian
dari angin kencang atau intrusi air laut. Mangrove juga
terbukti memainkan peran penting
dalam melindungi pesisir dari gempuran badai. Dusun
Tongke-tongke dan Pangasa,
Sinjai, Sulawesi Selatan yang memiliki barisan mangrove yang
tebal di pantai terlindung
dari gelombang pasang (Tsunami) di pulau Flores pada akhir
tahun 1993. Sedangkan
beberapa dusun yang berbatasan dengan kedua dusun ini yang
tidak mempunyai
mangrove yang cukup tebal mengalami kerusakan yang cukup
parah. Di Bangladesh,
pada bulan Juni 1985 sebanyak 40.000 penduduk yang tinggal
di pesisir dihantam
badai. Mengetahui manfaat mangrove dalam menahan gempuran
badai, pemerintah
Bangladesh kemudian melakukan penanaman seluas 25.000 hektar
areal pantai dengan
vegetasi mangrove (Maltby, 1986).
Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah
laut merupakan salah
satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru.
Akar mangrove mampu
mengikat dan menstabilkan substrat lumpur, pohonnya
mengurangi energi gelombang
dan memperlambat arus, sementara vegetasi secara keseluruhan
dapat memerangkap
sedimen (Davies and Claridge, 1993 dan Othman, 1994). Pada
awalnya, proses
pengikatan sedimen oleh mangrove dianggap sebagai suatu
proses yang aktif, dimana
jika terdapat mangrove otomatis akan terdapat tanah timbul
(Steup, 1941). Berbagai
penelitian (van Steenis, 1958 dan Chapman, 1977) kemudian
menyebutkan bahwa proses
pengikatan dan penstabilan tersebut ternyata hanya terjadi
pada pantai yang telah
berkembang. Satu hal yang penting adalah vegetasi mangrove
mempunyai peranan
yang besar dalam mempertahankan lahan yang telah
dikolonisasinya, terutama dari
ombak dan arus laut. Pada pulau-pulau di daerah delta yang
berlumpur halus ditumbuhi
mangrove, peranan mangrove sangat besar untuk mempertahankan
pulau tersebut.
Sebaliknya, pada pulau yang hilang mangrovenya, pulau
tersebut mudah disapu ombak
dan arus musiman (Chambers, 1980).
Peranan mangrove dalam menunjang kegiatan perikanan pantai
dapat disarikan dalam
dua hal. Pertama, mangrove berperan penting dalam siklus
hidup berbagai jenis ikan,
udang dan moluska (Davies & Claridge, 1993), karena
lingkungan mangrove menyediakan
perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang
masuk kedalam rantai
makanan. Kedua, mangrove merupakan pemasok bahan organik,
sehingga dapat
menyediakan makanan untuk organisme yang hidup pada perairan
sekitarnya (Mann,
1982). Produksi serasah mangrove berperan penting dalam
kesuburan perairan pesisir
dan hutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara
ekosistem pesisir (Odum,
dkk, 1974). Di Indonesia, produksi serasah mangrove berkisar
antara 7 – 8 ton/ha/
tahun (Nontji, 1987).
