Pengamatan Hutan Mangrove di Lapangan

Melakukan pengamatan di habitat mangrove memerlukan lebih dari sekedar buku
panduan, teropong dan alat tulis saja, melainkan juga memerlukan waktu yang cukup
panjang, stamina yang baik serta ketahanan terhadap udara panas, keringat, lumpur, air
asin dan terutama nyamuk. Sebelum melakukan pengamatan, persiapan yang baik adalah
salah satu syarat untuk tercapainya tujuan pengamatan. Diantaranya adalah menyiapkan
baju lengan panjang dari bahan katun atau bahan lain yang menyerap keringat, cairan
anti nyamuk dan alat-alat tulis yang tahan kondisi basah.

Pengamatan di lingkungan mangrove seringkali harus menggunakan perahu atau sampan.
Disarankan untuk tidak membawa barang yang tidak terlalu penting, sehingga
memudahkan pergerakan, termasuk jika sewaktu-waktu harus memanjat pohon mangrove
untuk mendapatkan sampel herbarium atau keperluan lainnya. Untuk menghindari panas,
sebaiknya gunakan topi yang dapat menyerap keringat. Payung kecil kadang-kadang
juga sangat bermanfaat untuk melindungi diri dari panas atau hujan, atau melindungi
saat kita mengambil photo pada saat hujan. Air laut sangat “jahat” terhadap kamera
serta peralatan optis lainnya. Untuk itu perlu disediakan kantung plastik serta kotak
plastik tahan air untuk menyimpan peralatan tersebut.

Berperahu di lingkungan mangrove akan sangat dipengaruhi oleh pasang-surut air laut,
karenanya perlu perencanaan matang. Lihatlah daftar pasang-surut. Air tinggi biasanya
akan lebih memudahkan kita untuk mencapai tujuan tertentu, walaupun untuk keperluan
lainnya (misalnya pengamatan tanah, fauna permukaan dan dalam tanah serta tipe
perakaran) kondisi ini kurang mendukung.

Pengamatan Hutan Mangrove di Lapangan

Melakukan pengamatan di habitat mangrove cukup menyita waktu, melelahkan dan
menguras keringat, karena itu air minum dan makanan kecil secukupnya perlu
dipersiapkan.

Spesimen Tumbuhan Mangrove

Dibandingkan dengan pengamatan di hutan tropis, pengamatan vegetasi di habitat mangrove
relatif lebih mudah, karena terbatasnya jenis tumbuhan serta sifat perbungaannya yang
tidak terlalu musiman. Hal ini berarti bahwa hampir setiap saat dapat ditemukan pohon
yang memiliki bunga atau buah yang akan memudahkan identifikasi jenis pohon. Lebih
dari itu, tumbuhan pada habitat mangrove tidaklah setinggi pohon-pohon di hutan hujan
tropis. Meskipun demikian, pengamatan pada habitat mangrove juga memiliki kesulitan
tersendiri. Sebagian besar bentuk pohonnya memiliki kesamaan, sehingga pengamat harus
memfokuskan perhatiannya pada perbedaan kulit kayu, tipe akar serta bunga/buahnya.
Jika waktu pengamatan tidak memungkinkan, perlu dibuat koleksi tumbuhan, yakni dengan
mengambil daun, bunga, dan buah dari pohon yang akan diidentifikasi. Identifikasi dapat
dilakukan kemudian di laboratorium dengan membuat catatan mengenai lokasi, tanggal,
tipe perakaran, dan habitat.

Spesimen sebaiknya disimpan diantara kertas koran yang dijepit oleh bambu atau tripleks.
Biasanya dengan cara ini spesimen masih bisa diidentifikasi selama 2 - 3 hari kemudian.
Untuk perjalanan yang lebih lama, spesimen dapat disimpan dalam kantung pelastik
yang tahan air dan sama sekali tidak terbuka terhadap udara luar, dan kemudian ditaburi
methylate spirit. Kelemahannya, bahan ini cukup mahal, mudah terbakar dan mudah
menguap. Untuk 25 - 35 spesimen dibutuhkan 1 liter methylate spirit.

Pengamatan Vegetasi

Untuk pengamatan vegetasi, sangat membantu jika memiliki peta topografi serta peta
tematik. Peta topografi dapat diperoleh di BAKOSURTANAL, Cibinong, Jawa Barat,
sementara peta tematik yang paling memadai saat ini adalah yang diproduksi oleh
RePPProT (the Regional Physcial Planning Programme for Transmigration) dengan skala
1 : 250.000 yang melingkupi hampir seluruh wilayah Indonesia, antara tahun 1985 -
1992. Peta tersebut mencakup Sistem Lahan serta tipe tata guna lahan dan hutan yang
akan sangat bermanfaat dalam studi vegetasi.

Selain peta, citra inderaja juga sangat membantu perencanaan studi, dan biasanya bisa
diperoleh di LAPAN, Jakarta. Pada citra inderaja yang memadai dapat membedakan
zona vegetasi yang berbeda, termasuk sabuk mangrove yang umumnya memiliki
kharakteristik lokasi yang berbeda.

Pengamatan di lapangan kemudian akan memberikan informasi yang lebih baik, terutama
karena peta serta citra saja tidak akan memberikan keterangan yang memadai mengenai
kondisi yang sebenarnya di lapangan. Bagaimanapun, gabungan kedua metoda tersebut
akan memberi hasil yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Cara termudah melakukan pengamatan di lapangan adalah dengan melakukan transek.
Pada dasarnya terdapat dua metoda transek yang dapat dipakai, yaitu transek garis (strip
sampling) dan transek plot garis (line plot sampling). Pada metoda yang pertama, yaitu
membuat garis transek dengan panjang tertentu (misalnya 100 meter atau 500 meter)
dengan lebar 10 sampai 20 meter, kemudian dicatat tumbuhan (jenis dan jumlah
individu) yang di dalam dan disinggung garis tersebut. Metoda kedua juga pada prinsipnya
sama, kecuali dalam metoda ini dibuat plot-plot (misalnya luas 100 m2/radius 5 m)
dengan jarak antar plot pada garis (misalnya 20 m), kemudian dicatat seluruh tumbuhan
(jenis dan jumlah individu) yang tumbuh dalam lebar tersebut. Transek kemudian dapat
dibandingkan satu dengan yang lainnya, baik secara visual maupun dengan menggunakan
perangkat lunak komputer tertentu. Metoda-metoda diatas antara lain dijelaskan dengan
lebih rinci oleh Chapman (1984) dan English, dkk (1994), serta beberapa lainnya. Untuk
mengetahui informasi mengenai analisis vegetasi hutan (termasuk mangrove) dapat dibaca
buku Metoda Survey Vegetasi yang disusun oleh Kusmana (1997).

Pengamatan Fauna

Untuk keperluan studi fauna vertebrata, metoda yang dilakukan tidak banyak berbeda
dengan metoda yang biasa digunakan di daratan. Khusus untuk burung air (bermigrasi)
disarankan untuk menggunakan Howes (1989) dan Rusila (1999). Sementara untuk fauna
vertebrata diantaranya disajikan dalam Sasekumar (1984) dan English et al. (1994).

Pengamatan fauna invertebrata pada habitat mangrove umumnya berkaitan dengan
zonasi, densitas, produktivitas, pola distribusi vertikal (khususnya berkaitan dengan pasang
surut air laut) dan fauna bawah tanah. Teknik yang digunakan biasanya dilakukan dengan
menggunakan pengambilan sampel lumpur, pengayakan, pemilahan dan identifikasi jenis.